Sabtu, 02 Agustus 2014

Mengenal Santo Antonius dari Mesir | 17 Januari

St. Antonius lahir pada tahun 251 di sebuah dusun kecil di Mesir. Ketika usianya 20 tahun, kedua orangtuanya meninggal dunia. Mereka mewariskan padanya harta warisan yang besar dan menghendaki agar ia bertanggung jawab atas hidup adik perempuannya. Antonius merasakan belas kasihan Tuhan yang berlimpah atasnya dan datang kepada Tuhan dalam doa. Semakin lama semakin peka ia akan penyelenggaraan Tuhan dalam hidupnya.

Sekitar 6 bulan kemudian, ia mendengar kutipan Sabda Yesus dari Kitab Suci : "Pergilah, juallah apa yang kau miliki dan berikanlah itu kepada orang - orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di Sorga" (Mrk 10:21). Antonius menerima sabda tersebut sebagai sapaan pribadi Tuhan dan jawabanNya atas doanya mohon bimbingan Tuhan. Ia menjual sebagian besar harta miliknya, menyisakan sedikit saja cukup untuk menunjang hidup adik dan dirinya sendiri. Kemudian ia mebagi - bagikan uang itu kepada merekan yang membutuhkannya.

Saudari Antonius bergabung dalam kelompok perempuan yang hidup dalam doa dan kontemplasi. Antonius memutuskan untuk hidup sebagai seorang pertapa. Ia mohon kepada seorang pertapa senior untuk memberinya pelajaran hidup rohani. Antonius juga mengunjungi pertapa lainnya agar ia dapat belajar kebijaksanaan - kebijaksanaan paling utama dalam diri setiap pertapa. Kemudian ia mulai hidupnya sendiri dalam doa dan tobat sendirian hanya dengan Tuhan saja.

Ketika Antonius berusia 55 tahun, ia mendirikan sebuah biara guna menolong sesama. Banyak orang mendengar tentangnya dan mohon saran serta nasehatnya. Antonius akan memberi mereka nasehat - nasehat praktis, seperti "Setan takut kepada kita ketika kita berdoa dan bermatiraga. Setan juga takut ketika kita rendah hati dan lemah lembut. Terutama, setan takut pada kita ketika kita sangat mencintai Yesus. Setan lari terbirit - birit ketika kita membuat Tanda Salib."

Santo Antonius mengunjungi Santo Paulus Pertapa. Ia merasa diperkaya dengan teladan hidup St. Paulus yang kudus. St. Antonius wafat setelah melewatkan hidup yang panjang dalam doa. Usianya mencapai 105 tahun. Ia menulis riwayat hidup St. Antonius dari Mesir yang sangat terkenal.

Kamis, 31 Juli 2014

Mengenal Santo dan Santa

Gereja Katolik mengenal Santo dan Santa sebagai gelar suci yang diberikan kepada orang beriman yang telah berjuang dan membela nilai dan paham hidup untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Diawali dengan suatu proses penelitian yang panjang dan teliti, yang disebut Beatifikasi dan Kanonisasi hingga akhirnya disetujui oleh Tahta Suci, seorang yang telah meninggal dunia dan dianggap martir atau dianggap kudus maka biasanya Uskup Diosesan yang memprakarsai proses penyelidikan.

Dikenal dengan istilah kanonisasi, yaitu proses untuk memaklumkan seseorang menjadi Santo dan Santa sejak tahun 1234 oleh Paus Gregorius IX menetapkan prosedur untuk menyelidiki hidup calon santa / santo dan kemungkinan adanya mukjizat yang terjadi dengan perantaraannya.
Paus Gregorius IX

Pada tahun 1588, Paus Sixtus V mempercayakan kepada Kongregasi Ritus (yang kelak diberi nama Kongregasi untuk Masalah Santo / Santa) untuk mengawasi keseluruhan proses. Dimulai dengan Paus Urbanus VIII pada tahun 1634, berbagai Paus telah merevisi dan memperbaharui ketentuan – ketentuan dan prosedur – prosedur kanonisasi. “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Menurut catatan sejarah Gereja Katolik memulai perayaan untuk semua Martir pada tanggal 13 Mei 609 dan 610, ketika Paus Bonifasius IV mengkonsekrasikan Pantheon di Roma dan mempersembahkannya kepada Bunda Perawan Maria. Lalu pesta semua orang kudus dipindah ke tanggal 1 November oleh Paus Gregorius III dalam sebuah oratori di Basilika Santo Petrus. Dan sejak saat itu Gereja memperingati hari raya semua Orang Kudus pada hari itu.

Gereja Katolik meyakini kekudusan hidup mereka dapat menjadi panutan atau teladan bagi setiap umat beriman dalam memetik nilai – nilai kehidupan yang tentu saja berhubungan tentang perjuangan hidup.

Para Bapa Gereja, antara lain St. Cyril dari Yerusalem (313-386) mengajarkan demikian tentang penghormatan kepada para orang kudus: “Kami menyebutkan mereka yang telah wafat : pertama -  tama para patriarkh, nabi, martir, bahwa melalui doa – doa dan permohonan mereka, Tuhan akan menerima permohonan kita …. (Catechetical Lecture 23:9)

Marilah kita serahkan ujud doa pribadi kita kepada Orang Kudus Allah yang senantiasa berdoa untuk keselamatan umat manusia. Semoga teladan hidup para Santo dan Santa menjadi pedoman hidup keseharian kita umat beriman yang masih berziarah di dunia hingga akhirnya bersatu dalam Kerajaan Bapa di Sorga Mulia.